Fisher81's Blog

03/17/2010

BAB II. KEPEMIPMPINAN

Filed under: STIE : KEPEMIMPINAN — fisher81 @ 8:57 pm

TEORI PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN

Pada asanya teori kepemimpinan dibagi dalam tiga aliran/pendekatan, yaitu: (1) teori sifat (thrait theory), (2) teori perilaku (behavior theory), dan (3) teori situasional kontingensi.

2.1. Teori sifat (Thrait theory)

Teori ini berpandangan bahawa seseorang yang dilahirkan sebagai pemimpin karena memiliki sifat-sifat sebagai pemimpin (bakat bawaan turunan).

Asumsi pemikiran bahawa keberhasilan seseorang pemimpin ditentukan oleh kualiti sifat (karakteristik) tertentu yang dimiliki atau melekat dalam diri, sama ada berhubungan dengan fisik, mentaliti, psikologis, personaliti dan intelektualiti.  Teori ini tidak memungkiri bahwa sifat-sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan, tetapi juga dicapai menerusi suatu proses pendidikan dan pengalaman.

Ada banyak sifat-sifat pemimpin.  Mengikut  Ordway Tead, seperti berikut:

  1. Energi jamaniah dan mental (physical and nervous energy),
  2. Kesedaran akan tujuan dan arah (a sense of purpose and drection),
  3. Semangat, kegairahan, kegembiraan yang besar (antusiasme/enthusiasm),
  4. Keramahan dan kecintaan (friendliness and affection),
  5. Keutuhan, kejujuran, ketulusan hati (integritas/integrity),
  6. Penguasaan teknis (technical mastery),
  7. Ketegasan dalam mengambil keputusan (kecisiveness),
  8. Kecerdasan (intelligence),
  9. Keterampilan mangajar (teaching skill),
  10. Kepercayaan (faith).

Manakala mengikut George R. Terry pula ialah seperti berikut:

  1. Kekuatan,
  2. Stabiliti emosi,
  3. Pengetahuan tentang relasi insani,
  4. Kejujuran,
  5. Objektif,
  6. Dorongan pribadi,
  7. Keterampilan berkomunikasi,
  8. Kemampuan mengajar,
  9. Keterampilan sosial,
  10. Kecekapan teknis atau kecekapan manajerial,

Pendapat lain ada yang mengatakan bahawa sifat-sifat pemimpin ialah seperti berikut:

  1. Terampil mengurus orang lain,
  2. Memiliki kepekaan,
  3. Inisiatif,
  4. Rangsangan emosional untuk membela teman,
  5. Dewasa dalam pemikiran,
  6. Pandai membujuk dalam rayuan yang menghanyutkan,
  7. Gampang berkomunikasi,
  8. Percaya diri untuk tampil di depan umum,
  9. Kreatif dalam menemukan gagasan baru,
  10. Mempunyai persepsi positif serta jalan keluar setiap masalah,
  11. Selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan orang lain.
  12. Biasanya terkesan sombong dan terlalu mengatur (karena kepedulian pada lingkungan),
  13. Ringan tangan untuk membantu,
  14. Gaya berdiri tidak terlalu menunduk,
  15. Telunjuk sering diarahkan pada hal-hal yang perlu dikerjakan orang lain,
  16. Teori sifat sering berangkat dari fisik seseorang (contoh berbadan tinggi besar berbakat memimpin keamanan, bersuara keras tepat untuk berorasi di depan umum),
  17. Taqwa, sehat, cakap, jujur, tegas, setia, cerdik, berani, intelek, disiplin, manusiawi, bijaksana, energik, percaya diri, berjiwa matang, bertindak adil, berkemauan keras, berinovasi, berwawasan luas, komunikatif, daya nalar tajam, daya tanggap tajam, kreatif, penuh tanggung jawab, dan sifat-sifat positif lainnya.

Teori sifat mempunyai kelemahan atau kekurangan, iaitu:

  1. Tidak semua orang yang berbadan besar bersifat perkasa, bahkan ada yang feminim, dan tidak semua mereka yang bersuara keras pintar berpidato karena pemalu dan gagap,
  2. Tidak ada hubungan antara sifat kepemimpinan dengan tingkat keberhasilan,
  3. Pemimpin bukan dilahirkan dengan sifat-sifat khususnya tetapi dapat dibentuk melalui kebiasaan (alah bisa karena biasa).

2.1.  Teori perilaku (Behavior theory)

Kepemimpinan merupakan interaksi pemimpin dengan pengukut, dan dalam interaksi tersebut pengikutlah yang menganalisis dan mempersepsikan apakah menerima atau menolak pengaruh dari pemimpinnya.  Melahirkan dua orientasi perilaku pemimpin, yaitu:

1.  Berorientasi tugas (task orientation),

Mengutamakan penyelesaian tugas, dan menampilkan gaya kepemimpinan otokratis.

2.  Berorientasi pada orang (people orientation).

Mengutamakan penciptaan hubungan-hubungan manusiawi menampilkan gaya kepemimpinan demokratis atau partisipatif.

Daripada dua orientasi perilaku pemimpin inilah seterusnya melahirkan gaya-gaya  kepemimpinan yang akan dijelaskan pada sub-bab 1.4.

2.3.  Teori situasional kontingensi (situational kontingensi theory)

Kepemimpinan berkembang sesuai situasi dan keperluan.  Hanya pemimpin yang mengetahui situasi dan keperluan organisasilah yang dapat menjadi pemimpin yang efektip.  Terdiri antara lain:

1.  Teori path goal oleh Evans (1970), House (1971), Fulk & Windler (1982),

Teori ini berusaha menjelaskan bagaimana perilaku seorang pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja para bawahan.  Berusaha meramalkan efektivitas kepemimpinan dalam segala situasi.  Pemimpin yang efektip karena pengaruh motivasi mereka yang positip, kemampuan untuk melaksanakan, dan kepuasan pengikutnya.  Terdapat dua dalil penting, yaitu:

1.  Tingkah laku pemimpin efektip sejauh mana bawahan mempersepsikan perilaku tersebut sebagai suatu sumber kepuasan langsung atau sebagai sarana bagi kepuasan di masa mendatang.

2.  Tingkah laku pemimpin bersifat motivasional sejauhmana memberikan kepuasan dari kebutuhan bawahan yang kontigen pada prestasi efektip dan melengkapi lingkungan bawahan dengan memberikan bimbingan, kejelasan arah, dan penghargaan yang diperlukan untuk prestasi efektip.

Menurut teori ini, ada empat perilaku pemimpin yang berlangsung dalam setiap organisasi, yaitu:

  1. Supportive leadership (kepemimpinan yang mendukung),

Memberi perhatian kepada keperluan bawahan, memperlihatkan perhatian terhadap kesejahteraan mereka dan menciptakan suasana yang bersahabat dalam unit kerja mereka.

2.  Directive leadership (kepemimpinan yang instruktif),

Memberitahukan kepada para bawahan apa yang diharapkan dari mereka, memberi pedoman yang spesifik, meminta para bawahan untuk mengikuti peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur, mengatur waktu, dan mengkoordinasikan pekerjaan mereka.

3.  Partisipative leadership (kepemimpinan partisipatif),

Berkonsultasi dengan bawahan dan memperhitungkan opini dan saran mereka.

4.  Achievement oriented leadership (kepemimpinan yang berorientasi kepada keberhasilan.

Menetapkan tujuan-tujuan yang menantang, mencari perbaikan dalam kinerja, menekankan kepada keunggulan dalam kinerja, dan memperlihatkan kepercayaan bahwa para bawahan akan mencapai standar yang tinggi (Yulk, 1994).

2.  Teori situasional (oleh Hersey dan Blanchard)

Gaya kepemimpinan yang efektip itu berbeda-beda sesuai dengan kematangan bawahan.  Kematangan atau kedewasaan bukan dalam arti usia atau stabilitas emosional, melainkan (a) keinginan untuk berprestasi, (b) kesediaan untuk menerima tanggung jawab, dan (c) kemampuan serta pengalaman yang berhubungan dengan tugas, tujuan dan pengetahuan pengikut merupakan variabel-variabel penting dalam menentukan gaya kepemimpinan yang efektip.

Hubungan antara seorang manajer dan bawahan bergerak melalui empat tahap (daur hidup) sejalan dengan perkembangan dan kematangan bawahan, dan para pemimpin perlu mengubah gaya kepemimpinannya untuk disesuaikan dengan perkembangan setiap tahap:

  1. Pase pertama

ciri-ciri: ketika bawahan pertama kali memasuki organisasi, cocok gaya yang sangat berorientasi pada tugas (beri instruksi mengenai tugas dan dibuat terbiasa dengan peraturan dan prosedur organisasi, pemimpin tidak mengarahkan (non directive) menyebabkan kecemasan dan kebingunan dikalangan pengikut baru; pendekatan hubungan pengikut yang partisipatif tidak tepat; bawahan belum dapat dianggap sebagai teman;

2.  Pase kedua

ciri-ciri: bawahan mulai mempelajari tugasnya, pemimpin yang berorientasi pada tugas tetap penting karena mereka belum mau atau mampu menerima tanggung jawab sepenuhnya; kepercayaan dan dukungan pemimpin terhadap bawahan dapat meningkat sejalan dengan makin akrabnya ia dengan bawahan dan ingin mendorng usaha lebih lanjut di pihak mereka; pemimpin boleh memulai perilaku yang berorientasi pada bawahan.

3.  Pase ketiga

ciri-ciri: kemampuan dan motivasi bawahan mulai meningkat dan mereka secara aktif mulai mencari tanggung jawab yang lebih besar; pemimpin tidak lagi perlu lagi bersikap mengarahkan (karena pengarahan yang terlalu ketat mungkin membuat tersinggung); akan tetapi pemimpin akan terus mendukung dan memperhatikan agar dapat memperkuat kebulatan tekad bawahan untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar; jika lama kelamaan bawahan lebih percaya diri, mampu mengarahkan diri, dan berpengelaman, manajer dapat mengurangi porsi dukungan dan dorongan;

4.  Pase keempat

ciri-ciri: bawahan sudah tidak memerlukan atau mengharapkan lagi suatu hubungan yang bersifat mengarahkan dengan pemimpin; bawahan sudah mampu berdikari.

3.  Teori kontigensi oleh Fiedler

Asumsi dasar adalah bahwa sangat sulit bagi pemimpin untuk mengubah gaya kepemimpinan yang telah membuat ia berhasil; penekanan pada efektivitas dari suatu kelompok; efektivitas suatu organisasi tergantung pada (is contingent upon); dua variable yang saling berinteraksi, yaitu (1) system motivasi dari pemimpin, dan (2) tingkat atau keadaan yang menyenangkan dari situasi.

Situasi kepemimpinan digolongkan pada tiga dimensi:

(i)      Hubungan pemimpin-pengikut

Pemimpin akan mempunyai lebih banyak kekuasaan dan pengaruh, apabila ia dapat menjalin hubungan yang baik dengan anggota-anggotanya, artinya kalau ia disenangi, dihormati dan dipercaya.

(ii)    Struktur tugas

Bahwa penugasan yang terstruktur baik, jelas, eksplisit, terprogram, akan memungkinkan pemimpin lebih berpengaruh daripada kalau penugasan itu kabur, tidak jelas, dan tidak terstruktur, dan

(iii)         Posisi kekuasaan

Pemimpin akan mempunyai kekuasaan dan pengaruh lebih banyak apabila posisinya atau kedudukannya memperkenankan ia memberi ganjaran, hukuman, mengangkat dan memecat, daripada kalau ia tidak memiliki kedudukan seperti itu.

Manakala Pamudji (1993:145-152), menerangkan faktor-faktor yang memungkinkan “munculnya” kepemimpinan dan “sifat” (nature) kepemimpinan, dan melahirkan teori kepemimpinan, terdiri atas:

1.  Teori serba sifat (traits theory)

Mengajarkan bahwa kepemimpinan itu memerlukan serangkaian sifat-sifat, ciri-ciri atau perangai tertentu yang menjamin keberhasilan pada setiap situasi.  Seseorang pemimpin akan berhasil apabila ia memiliki sifat-sifat, ciri-ciri atau perangai tersebut.

2.  Teori lingkungan (environmental theory)

Munculnya pemimpin itu merupakan hasil daripada waktu, tempat, dan keadaan atau situasi dan kondisi.  Suatu tantangan atau suatu kejadian penting dan luar biasa akan menampilkan seseorang untuk menjadi pemimpin.

3.  Teori Pribadi dan situasi (personal-situational theory)

Pada dasarnya kepemimpinan merupakan produk dari terkaitnya tiga faktor, yaitu: 1) perangai (sifat-sifat) pribadi, 2) sifat kelompok/anggota, dan 3) kejadian-kejadian yang dihadapi oleh kelompok.

4.  Teori Interaksi dan Harapan (Interaction-expectation)

Seorang pemimpin menggerakkan pengikut dengan harapan bahwa ia akan berhasil, mencapai tujuan organisasi, akan mendapatkan keuntungan, penghargaan dan sebagainya, demikian pula pengikut mengikuti pemimpin dengan harapan-harapan seperti pemimpin.  Aksi pemimpin harus sesuai dengan harapan pengikut sehingga ditanggapi dengan reaksi, dan akhirnya terjadi interkasi .

5.  Teori Humanistik (humanistic theory)

Karena sifatnya manusia adalah organisma yang dimotivasi, sedangkan organisasi karena sifatnya adalah tersusun dan terkendali.  Fungsi kepemimpinan adalah memenuhi kebutuhan  individu  sehingga memberikan sumbangan tercapainya tujuan organisasi.

6.  Teori tukar menukar (exchange theory)

Antara pemimpin dan yang dipimpin berlangsung tukar menukar, harus saling memberi dan menerima  (take and give).

Mengikut George R. Terry, teori kepemimpinan tediri atas:

7.  Teori otokratis

Kepemimpinan didasarkan atas perintah-perintah, paksaan, dan tindakan-tindakan yang arbitrer (sebagai wasit); melakukan pengawasan ketat agar semua pekerjaan berjalan efisien; berorientasi pada struktur organisasi dan tugas-tugas; selalu berperan sebagai pemain orkes tunggal dan berambisi untuk merajai situasi.

Teori otokratis terdiri atas:

  1. Otokratis keras

Memberikan perintah-perintah yang dipaksakan dan harus dipatuhi; menentukan policies/kebijakan untuk semua pihak tanpa berkonsultasi dengan para anggota; tidak pernah memberikan informasi mendetil tentang rencana-rencana yang akan datang, Cuma memberitahukan pada setiap anggota kelompoknya langkah-langkah segera yang harus dilakukan; memberikan pujian atau kritik pribadi terhadap setiap anggota kelompok dengan inisiatif sendiri; selalu menjauhi kelompoknya (menyisihkan diri) sebab menganggap diri sendiri sangat istimewa atau ekskusif.

2.  Otokratis lembut/baik

Tepat, seksama, sesuai dengan prinsip, namun keras dan kaku; tidak pernah mendelegasikan otoritas; lembaga/organisasi yang dipimpin merupakan “a one man show”; business is business; waktu adalah uang; untuk bisa makan orang harus bekerja keras; yang kita kejar adalah kemenangan mutlak; sikap dan prinsipnya konservatif; bersifat baik terhadap orang-orang yang patuh; bertindak keras dan kejam terhadap orang-orang yang tidak mau patuh.

3.  Otokratis inkompeten

Mirip bayi, memiliki banyak energi; ingin mendominir orang lain; selalu mau berkuasa mutlak; sering bersifat tiranik; selalu membuat kekeliruan; tidak ada kestabilan jiwa, tingkah laku, perubuatan, sikap; pujian dan caci maki tergantung pada emosi-emosi/impuls-impuls sesaat (sangat impulsif); tidak selalu mau berkuasa; senantiasa bimbang dan merasa tidak pasti; suka mengangkat pegawai-pegawai yang karakter lemah mau mengelu-elu dan memuji-muji dirinya untuk kemudian mengeluh setinggi langit akan ketidakmampuan pegawai-pegawai; perintah-perintah akan ketidakmampuan pegawai-pegawai; perintah-perintah tidak disesuaikan dengan keterbatasan sarana yang ada; menyiksa bawahan dengan tugas-tugas berat diluar kemampuan; memaksa semua anggota agar secara buta tuli mematuhi semua komandonya; tidak punya prinsip; tidak mau mengindahkan moral; sifatnya jahat; suka membohong; suka menyogok; menyuap dan munafik; tidak segan-segan menggunakan cara busuk untuk mencapai tujuan.

8.  Teori psikologis

Fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi terbaik untuk merangsang kesediaan bekerja dari para pengikut dan anak buah; mementingkan aspek psikis manusia seperti pengakuan (recognizing), martabat, status sosial, kepastian emosional, memperhatikan keinginan dan kebutuhan pegawai, kegairahan kerja, minat, suasana hati dan lain-lain.

9.  Teori sosiologis

Kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk melancarkan antar relasi dalam organisasi dan sebagai usaha untuk menyelesaikan setiap konflik organisatoris antar pengikutnya agar tercapai kerjasama yang baik; menetapkan tujuan dengan menyertakan para pengikut dalam pengambilan keputusan terakhir; mengidentifikasi tujuan dan kerap kali memberikan petunjuk yang diperlukan bagi para pengikut untuk melakukan setiap tindakan yang berkaitan dengan kepentingan kelompok; setiap anggota mengetahui hasil apa, keyakinan apa, dan kelakukan apa yang diharapkan oleh pemimpin dan kelompoknya; pemimpin diharapkan dapat mengambil tindakan-tindakan korektif apabila terdapat  penyimpangan dalam organisasi.

10.  Teori suportif (partisipatif/demokratis)

Para pengikut harus berusaha sekuat mungkin, dan bekerja dengan penuh gairah; pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya menerusi policy tertentu; pemimpin menciptakan suatu lingkungan kerja yang menyenangkan dan dapat membantu mempertebal keinginan setiap pengikutnya untuk melaksanakan pekerjaan sebaik mungkin; sanggup bekerja sama dengan pihak lain; mau mengembangkan bakat dan skillnya dan menyadari benar keinginan sendiri untuk maju.

11.  Teori laissez faire

Pemimpin yang tidak becus mengurus, menyerahkan semua tanggung jawab serta pekerjaan kepada bawahan atau kepada semua anggota; seseorang ketua yang bertindak sebagai simbol tidak memiliki keterampilan teknis; kedudukan diperoleh melalui sistem nepotisme atau praktek penyuapan.

12.  Teori kelakuan pribadi

Kepemimpinan muncul berdasarkan kualitas-kualitas pribadi atau pola-pola kelakuan para pemimpinnya.

13.  Teori sifat (orang-orang besar/traits of great men)

Kepemimpinan dengan mengidentifikasikan sifat-sifat unggul dan kualitas superior serta unit yang diharapkan ada pada seorang pemimpin untuk meramalkan kesuksesan kepemimpinannya.

14.  Teori situasi

Harus terdapat daya flexibilitas pada pemimpin untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan situasi lingkungan sekitar dan zamannya.

15.  Teori humanistik (populistik)

Mewujudkan kebebasan manusia dan memenuhi segenap keperluan insani yang dicapai menerusi interaksi pemimpin dengan yang dipimpin

Terdapat 6 golongan pemimpin dilihat daripada pendekatan secara operasional, iaitu:

Situasional

Kepemimpinan situasional didasarkan adanya sifat yang luwes dalam menyesuaikan diri, langkah dan kebijakan dalam berbagai situasi.  Dalam teori ini, kepemimpinan dibentuk oleh empat variabel, iaitu: (1) pemimpin, (2) pengikut, (3) organisasi, dan (4) pengaruh poleksos.

Mengikut Fieldler, ada 3 dimensi yang boleh digunapakai untuk mengukur keberkesanan (efektiviti) pemimpin, iaitu:

(1)   Kepercayaan dan keyakinan pengikutnya,

(2)   Tingkat dimana jabatan-jabatan pengikut berisifat rutin dan tidak berstruktur,

(3)   Kekuasaan yang indern dalam posisi kepemimpinan,

  1. Teori tingkah laku personal,

Kepemimpinan boleh juga dipelajari daripada dasar kualiti personal atau tingkah laku para pemimpin.  Sumbangan daripada teori ini ialah seorang pemimpin tidak bertingkah laku sama dalam setiap keadaan yang dihadapi harus bertindak secara luwes dan wajar.  Tindakan pemimpin dan otoritas yang digunakan harus berkaitan dengan partisipasi atau kebebasan dalam pengambilan keputusan terhadap bawahan.

  1. Teori kepemimpinan suportif,

Kepemimpinan disini berpendapat bahawa pengikut-pengikutnya akan berperan dengan baik dan membantu usahanya.  Kepemimpinan ini disebut juga teori partisipatif dimana pemimpin penciptakan suatu suasana kerja penuh harapan semua pengikutnya berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya dan mengembangkan kecakapan yang dimiliki semaksimal mungkin.  Pemimpin dalam pengambilan keputusan harus mempertimbangkan rekomendasi dan pendapat pengikutnya.  Teori ini disebut juga teori kepemimpinan demokratik karena didalamnya terkandung unsur-unsur demokrasi.  Pemimpin yang menggunakan teori suportif ini memandang bawahan memiliki persamaan sosial dan memperhatikan segala ide dan pengetahuan mereka.

  1. Teori kepemimpinan sosiologik,

Kepemimpinan ini digambarkan sebagai: (a) pelengkap kerja, (b) memudahkan setiap aktiviti yang hendak dilakukan bawahan, (c) berusaha mendamaikan setiap perselisihan dalam organisasi.  Dalam menjalankan kepemimpinannya, pemimpin mengambil keputusan akhir dengan partisipasi dari bawahannya.  Indikasi tujuan dalam pengarahan diutamakan apa yang diperlukan oleh para bawahannya.  Mereka tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diyakini dan tingkah laku dan sikap yang diharapkan.

  1. Teori kepemimpinan psikologik

Kepemimpinan ini menganjurkan bahawa fungsi utama seorang pemimpin ialah mengembangkan motivasi yang baik.  Pemimpin wajib memberikan dorongan memberikan pertimbangan dan perhatian terhadap perkara-perkara yang berasal dari bawahan.  Program pemuasan keperluan bawahan merupakan tantangan bagi pemimpin psikologik dan teori ini sangat umum dan luas dalam teknik inovasi banyak dipergunakan dan umumnya berhasil, biasanya diasosiasikan dengan penerapan teknik yang tepat terhadap perkara-perkara perseorangan (individu).

  1. Teori kepemimpinan otokratik

Dalam kepemimpinan otokratik, sifat yang dikandung adalah adanya perintah, pemaksaan dan tindakan yang sewenang-wenang dari sang pemimpin terhadap bawahannya dalam memberikan perintah, pemimpin otokratik biasanya disertai dengan sanksi terhadap pelanggaran sebagai salah satu yang terpenting.  Disiplin dapat menyebabkan pemberian hukuman.  Misalnya pegawai yang memberikan hasil tinggi mendapat tambahan upah, manakala untuk suatu kesalahan diberi ganjaran hukuman.  Dalam teori ini ada keyakinan bahawa orang akan bekerja dengan baik apabila terhadap iklim kepatuhan.  Pemaksaan dari pimpinan otokratis tergantung kepada kekuasaan untuk menghukum.

Manakala mengikut Mar’at, kepemimpinan dapat dilihat daripada beberapa teori, iaitu: (1) teori orang-orang terkemuka, (2) teori lingkungan, (3) teori personal- situasional, (4) teori interaksi harapan, (5) teori humanistik, dan (6) teori pertukaran, dengan penjelasan seperti berikut:

  1. Teori orang-orang terkemuka,

Teori ini dipengaruhi oleh penelitian tentang latar belakang keturunan dari orang-orang terkemuka, kepemimpinan berdasarkan warisan (Galton, 1879); kaum kerabat para raja memiliki kecenderungan untuk menjadi orang yang berkuasa dan berpengaruh, manusia membuat dan membentuk suatu bangsa sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya (Woods, 1913); kelangsungan hidup buat yang terbaik, dan perkawinan campuran diantara mereka menghasilkan kelas aristokrat yang secara biologis berbeda dengan kelas yang lebih rendah (Wiggams, 1931); pemimpin sebagai seorang individu yang memiliki bakat bawaan yang diperoleh dari keturunan yang khas (Carlyle, 1841); individu-individu dalam setiap masyarakat memiliki tingkatan yang berbeda dalam inteligensi, energi dan kekuatan moral, dan apapun arah pengaruh yang timbulkan oleh massa, mereka selalu dipimpin oleh individu yang benar-benar superior (Dowd, 1936); survey komprehensif dan analisis dari teori orang-orang terkemuka tentang kepemimpinan (Jennings, 1960); kepemimpinan berkenaan dengan sifat-sifat dasar kepribadian dan karakter (Bernard, 1926, Bingham, 1927, Tead, 1929, dan Kilbourne, 1935).

  1. Teori lingkungan,

Bahawa kemunculan pemimpin besar adalah hasil daripada waktu, tempat, dan situasi sesaat; pemimpin muncul oleh kemampuan dan keterampilan yang memungkinkan dia memecahkan masalah sosial dalam keadaan tertekan, perubahan dan adaptasi, kepemimpinan merupakan sesuatu yang innate dan menjadi modal dasar kecenderungan kekuatan sosial yang dimilikinya (Mumford, 1909); dua hipotesis tentang kepemimpinan, yaitu: (1) kualitas pemimpin dan kepemimpinan akan sangat bergantung kepada situasi kelompok, (2) kualitas individu dalam mengatasi situasi sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu yang berhasil dalam mengatasi situasi yang sama (Bogardus, 1928, Hocking, 1924 dalam Person, 1928); jumlah pemimpin militer di Inggris sebanding dengan banyaknya konflik yang muncul pada bangsa tersebut, situasi kultural erat kaitannya dengan prestasi kepemimpinan (Schneider, 1937); kepemimpinan tidak terletak dalam diri individu melainkan merupakan fungsi dari suatu peristiwa, kepemimpinan dianggap sebagai faktor instrumen pemimpin dalam memecahkan masalah yang muncul (Murphy, 1941).

  1. Teori personal-situasional,

Kepemimpinan sebagai efek dari kekuatan tunggal; kepemimpinan harus juga termasuk 1) sifat-sifat efektif, intelektual, dan tindakan individu, 2) kondisi khusus individu di dalam pelaksanaannya; kepemimpinan dihasilkan dari rangkaian tiga faktor, iaitu: 1) sifat kepribadian pemimpin, 2) sifat dasar kelompok dan anggotanya, dan 3) peristiwa (perubahan atau masalah) yang dihadapkan kepada kelompok (Case, 1933); lima hukum dinamika medan kepemimpinan, pemimpin harus: 1) memiliki karakter keanggotaannya kelompok yang dipimpinnya, 2) memiliki potensi yang tinggi di lapangan sosial, 3) menyesuaikan diri dengan struktur medan yang ada, 4) menyadari kecenderungan jangka panjang dalam struktur medan, dan 5) mengikuti/menerima bahawa dengan meningkatnya potensi harus diimbangi dengan kurangnya kemerdekaan dalam hal kepemimpinan; untuk mengerti kepemimpinan, perhatian harus diarahkan kepada: 1) sifat dan motif pemimpin sebagai manusia biasa, 2) membayangkan bahawa terdapat sekelompok orang yang dia pegang dan motifnya mengikuti dia, 3) penampilan peran yang harus dimainkannya sebagai pemimpin, dan 4) kaitan kelembagaan yang melibatkan dia dan pengikutnya (Gerth dan Mills, 1952); kepemimpinan merupakan fenomena interaksional dalam struktur kelompok diantara para anggotanya dalam usaha mencapai tujuan bersama (Gibbs, 1954); kepemimpinan harus dipandang sebagai hubungan antar individu dalam satu kelompok, dan penelitian tentang kepemimpinan harus dalam kerangka dimensi struktural dan fungsional dari organisasi (Stogdill dan Shartle, 1955); revisi teori kepemimpinan dengan pertimbangan: 1) birokrasi impersonal dan pengukuran yang rational, 2) organisasi formal dan hubungan interpersonal, 3) autokrasi yang bijaksana sebagai hasil dari struktur hubungan atasan bawahan yang tercipta, 4) perluasan tugas dan supervisi yang terpusat pada pekerja sehingga memungkinkan timbulnya aktualisasi diri pada diri individu, dan 5) pengelolaan partisipatif dan konsultasi bersama sehingga memungkinkan integrasi tujuan individual dan tujuan organisasi; dua fungsi primer kepemimpinan, iaitu: 1) membantu kelompok dalam menemukan arti dari tujuan yang telah ditetapkan bersama, dan 2) membantu kelompok dalam menentukan tujuan, yang pertama menyangkut syntality (pengukuran performance), dan yang kedua dengan synergy (dorongan dan arah tujuan) dari kelompok (Cottel, 1951); pemimpin kelompok memperoleh idiosyncrasy credit (semacam hak istimewa) untuk sedikit menyimpang dari norma kelompok atas seizin para anggota kelompok tanpa membahayakan statusnya di kelompok (Hollander, 1958, 1964).

  1. Teori interaksi harapan,

Pengembangan teori tentang kepemimpinan dengan menggunakan tiga variabel dasar, iaitu: 1) tindakan, 2) interaksi, dan 3) sentimen (Homan, 1950); kepemimpinan muncul pada situasi tertentu dimana saling ketergantungan antar tugas-tugas kelompok masing-masing anggota menjadi cirinya (Heemphills, 1954); reinforcement (mengharap bantuan) untuk mencapai peran (Stogdill, 1959); inti kepemimpinan dapat dilihat dari usaha anggota untuk mengubah motivasi anggota lain untuk mengubah tingkah lakunya (Bass, 1960); teori parth goal tentang kepemimpinan, hadiah hanya akan didapat melalui cara-cara tertentu dan disini anggota kelompok harus mempersepsikan semua tingkah laku ke arah cara tersebut (Evans, 1970); teori kepemimpinan yang motivasional, fungsi dari motivasi pemimpin adalah untuk meningkatkan asosiasi antara cara-cara tertentu yang bernilai positif dalam mencapai tujuan dengan tingkah laku yang diharapkan, dan meningkatkan penghargaan bawahan akan pekerjaan yang mengarah pada tujuan (House, 1970); teori kepemimpinan yang mempersatukan, keefektifan pola tingkah laku pemimpin tergantung dari hasil yang ditentukan oleh situasi tertentu, pemimpin yang memiliki jarak sosial (menekankan pada orientasi kerja) cenderung lebih efektip dalam berbagai situasi, semakin sosiabel interaksi kesesuaian pemimpin, semakin efektip kepemimpinan yang dihasilkan oleh situasi tertentu (Fiedler, 1970).

  1. Teori humanistik,

Dua postulat kepemimpinan organisasional, teori x dan teori y (Mc Gregor, 1960, 1966); adanya konflik yang mendasar antara organisasi dengan individu (Argyris, 1957, 1962, 1964; kepemimpinan merupakan suatu proses yang saling berhubungan dimana seorang pemimpin harus memperhitungkan harapan-harapan, nilai-nilai, dan keterampilan invidual dari mereka yang terlibat dalam interaksi yang berlangsung (Likert, 1961, 1967); konsepsi kepemimpinan yang dikaitkan dengan jaringan managerial, kepemimpinan yang memperhatikan kedudukan dari masing-masing anggota (Blake and Mouton, 1964, 1965).

  1. Teori pertukaran.

Interaksi sosial mengetengahkan bentuk pertukaran dimana diantara para anggota kelompok berlangsung proses saling memberi dan menerima (Homan, 1958, March dan Simon 1958, Thibault dan Kelley, 1959, dan Gergen, 1969); kelompok memberikan kepuasan akan status dan penghargaan sebagai pertukaran ataupun imbalan atas apa yang ia berikan/lakukan dalam mencapai tujuan kelompok (Jabo, 1971); pengangkatan seorang anggota untuk menempati status yang cukup tinggi merupakan manfaat yang besar bagi dirinya (Blau, 1964).

Sondang P. Siagian dan Prajudi Atmosudirdjo (dalam M. Karjadi, 1989) mengatakan teori lahirnya pemimpin seperti berikut: (1) teori bakat, (2) teori lingkungan, (3) teori hubungan kepribadian dengan situasi, (4) teori hubungan antar manusia, (5) teori beri memberi, (6) teori kegiatan harapan, (7) teori genetis, (8) teori sosial, dan (9) teori ekologis dengan penjelasan seperti berikut:

(1)   Teori bakat,

Kepemimpinan memerlukan bakat, bakat harus dikembangkan dengan melatih diri dalam sifat-sifat dan kebiasaan tertentu dengan berpedoman kepada suatu teori tentang berbagai sikap mental yang harus dipunyai oleh seorang pemimpin.

(2)   Teori lingkungan,

Masa, periode, tempat, lokasi, situasi, dan kondisi atau keadaan tertentu (misalnya sebagai akibat daripada suatu peristiwa yang sangat penting, luar biasa, dahsyat atau menggemparkan) yang tertentu akan menampilkan seorang pemimpin yang tertentu yang dikehendaki oleh lingkungan pada waktu itu di tempat tertentu.

(3)   Teori hubungan kepribadian dengan situasi,

Kepemimpinan seseorang itu ditentukan oleh kepribadiannya dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapinya (situasi dan kondisi terdiri atas tiga lapis, iaitu: a) tugas, pekerjaan atau masalah yang dihadapi, b) orang-orang yang dipimpin, dan c) keadaan yang mempengaruhi pekerjaan serta orang-orang yang harus menjalankan pekerjaan tersebut).

(4)   Teori hubungan antar manusia,

Penekanan kepada faktor/unsur manusia, manusia pada umumnya mempunyai motip untuk mau berbuat sesuatu, motip didasarkan atas perhitungan keinginan atau pamrih/perhitungan untung rugi untuk jangka panjang dan pendek, tergantung daripada pendidikan, kecerdasaran, pengalaman, nasihat lingkungan dan sebagainya.

(5)   Teori beri memberi,

Antara pemimpin dan yang dipimpin harus terdapat tukar menukar keuntungan, pemimpin yang mampu memberikan (seni) penghargaan, gengsi, atau kehormatan kepada anak buahnya akan dapat memperoleh daya kepemimpinan yang tinggi.

(6)   Teori kegiatan harapan,

Proses kegiatan manusia yang berkelompok terdiri atas aksi, reaksi dan interaksi bermacam-macam perasaan pada pihak-pihak yang bersangkutan, tidak mengecewakan harapan orang-orang yang dipimpin.

(7)   Teori genetis,

Seorang pemimpin dilahirkan untuk menjadi pemimpin, dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan.

(8)   Teori sosial, dan

Pemimpin tidak dilahirkan atau ditakdirkan menjadi pemimpin tetapi karena pengaruh masyarakat dari luar (pendidikan, pengalaman, dan kesempatan yang cukup).

(9)   Teori ekologis

Mengakui teori sosial dan genetis, manusia hanya akan menjadi pemimpin yang baik apabila dilahirkan memiliki bakat-bakat kepemimpinan dan menerusi pendidikan yang teratur dikembangkan.

Secara umum M. Karjadi (1989:20) membagi teori kepemimpinan dalam tiga kumpulan, iaitu:

  1. Kumpulan teori keturunan,
  2. Kumpulan teori pengaruh lingkungan,
  3. Kumpulan teori campuran antara teori keturunan dan teori pengaruh lingkungan.

2.4.    Gaya Kepemimpinan.

  1. Gaya kepemimpinan Kontinum (dua dimensi) oleh Warren H. Schmidt dan Tannenbaum

Termasuk dalam pandangan klasik, gaya yang merupakan tingkah laku seorang pemimpin sampai seberapa jauh hubungannya dengan pengikut/bawahannya dalam rangka pengambilan keputusan.

Pada dasarnya perilaku pemimpin bertitik tolak pada dua bidang pangaruh eksrim, yaitu :

a.  Berorientasi kepada pemimpin, dan

b.  Berorientasi kepada bawahan.

Gambar: Perilaku Pemimpin dan Bawahan

Kepemimpinan terpusat pada

atasan

Model 1

Pemimpin membuat keputusan, mengumumkan, dan bawahan menerima.

Model 2

Pemimpin menawarkan keputusan, bawahan menerimanya.

Model 3

Pemimpin menyajikan keputusan, dan menjawab pertanyaan bawah.

Model 4

Pemimpin menyajikan keputusan sementara dan dapat diubah setelah menerima masukan bahwan.

Model 5

Pemimpin menyajikan masalah, mendapat masukan bawahan, dan membuat keputusan.

Model 6

Pemimpin menjelaskan kendala-kendala, batasan-batasan, bawahan memutuskan.

Model 7

Pemimpin dan bawahan bersama-sama memutuskan dalam batasan organisasi.

Kepemimpinan terpusat pada

bawahan

1.  Gaya kepemimpinan managerial grid (grafik kepemimpinan) dari Robert Blake dan Jane Mouton.

Dari gaya kepemimpinan kontinum dikembangkan oleh Robert R. Blake dan Jamers S. Mouton.

Dikenal ada dua macam perilaku pemimpin, yaitu:

  1. Titik perhatiannya pada produksi (concern of production)
  2. Titik perhatian pada orang (concern of people).
  1. Gaya Tiga Dimensi oleh William J. Reddin

Gaya yang timbul akibat hubungan antara pemimpin dengan kerja dan pemimpin dengan tugas, melahirkan gaya yang efektip dan gaya yang tidak efektip.

  1. Gaya yang efektip
  2. Gaya eksekutif

Ciri-ciri: banyak memberikan perhatian pada tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja, motivator yang baik, menetapkan standard kerja yang tinggi, mengenal perbedaan diantara individu, dan mempergunakan kerja tim.

2.  Gaya pencinta pengembangan (developer),

Ciri-ciri: memberikan perhatian yang maksimum terhadap hubungan kerja, dan perhatian yang minimum terhadap tugas-tugas, kepercayaan yang implicit terhadap orang-orang, memperhatikan pengembangan sebagai seorang individu.

3.  Gaya otokratis yang baik (benevolent autocrat),

Ciri-ciri: perhatian yang maksimum terhadap tugas dan minimum terhadap hubungan kerja, mengetahuai secara tepat apa yang diinginkan dan bagaimana memperolehnya tanpa menyebabkan ketidakseganan pihak lain.

4.  Gaya birokrat

Ciri-ciri: perhatian yang minimum terhadap baik tugas maupun hubungan kerja, tertarik pada peraturan-peraturan, dan menginginkan memeliharanya dan melakukan kontrol situasi secara teliti.

  1. Gaya yang tidak efektif
  2. Gaya Pencinta kompromi (compromiser),

Ciri-ciri: perhatian yang besar pada tugas dan hubungan kerja dalam suatu situasi yang menekankan pada kompromi, pembuat keputusan yang jelek, banyak tekanan yang mempengaruhi.

5.  Gaya Missionari,

Ciri-ciri: penekanan yang maksimum pada orang-orang dan hubungan kerja, tetapi memberikan perhatian yang minimum terhadap tugas dengan perilaku yang tidak sesuai, menilai keharmonisan sebagai suatu tujuan dalam dirinya sendiri.

6.  Gaya Otokrat

Ciri-ciri: perhatian yang maksimum terhadap tugas dan minimum terhadap hubungan kerja dengan suatu perilaku yang tidak sesuai, tidak mempunyai kepercayaan pada orang lain, tidak menyenangkan, dan hanya tertarik pada jenis pekerjaan yang segera selesai.

7.  Gaya Lari dari tugas (deserter),

Ciri-ciri: perhatian baik pada tugas maupun pada hubungan kerja, situasi tertentu, gaya ini tidak terpuji karena pemimpin pasif tidak mau ikut campur secara aktif dan positif.

4.  Gaya empat system manajemen oleh Rensis Likert

1.  Sistem 1 (exploitive authoritative),

Pemimpin sangat otokratis, mempunyai sedikit kepercayaan kepada bawahan, suka mengekplotasi bawahan, bersikap paternalistik memotivasi dengan memberi ketakutan dan hukuman-hukuman, diselang seling pemberian penghargaan yang secara kebetulan (occasional reward), hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah, dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas.

2.  Sistem 2 (benevolent authoritative/otokrasi yang baik hati),

Mempunyai kepercayaan yang berselubung, percaya pada bawahan, mau memotivasi dengan hadiah-hadiah dan ketakutan berikut hukuman-hukuman, memperbolehkan adanya komunikasi ke atas, mendengarkan pendapat-pendapat, ide-ide dari bawahan, dan memperbolehkan adanya delegasi wewenang dalam proses keputusan, bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaannya dengan atasan.

3.  Sistem 3 (manajer konsultatif),

Mempunyai sedikit kepercayaan pada bawahan, biasanya dalam perkara kalau ia memerlukan informasi, ide atau pendapat bawahan; masih menginginkan melakukan pengendalian atas keputusan-keputusan yang dibuatnya; mau melakukan motivasi dengan penghargaan dan hukuman yang kebetulan; dan juga berkehendak melakukan partisipasi; menetapkan dua pola hubungan komunikasi, iaitu ke atas dan ke bawah; membuat keputusan dan kebijakan yang luas pada tingkat bawah; bawahan merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaan bersama atasan.

4.  Sistem 4 (partisipative group/kelompok partisipatif),

Mempunyai kepercayaan yang sempurna terhadap bawahan; dalam setiap persoalan selalu mengandalkan untuk mendapatkan ide-ide dan pendapat-pendapat lainnya dari bawahan, dan mempunyai niatan untuk mempergunakan pendapat bawahan secara konstruktif; memberikan penghargaan yang bersifat ekonomis dengan berdasarkan partisipasi kelompok dan keterlibatannya pada setiap urusan terutama dalam penentuan tujuan bersama dan penilaian kemajuan pencapaian tujuan tersebut; mendorong bawahan untuk ikut bertanggung jawab membuat keputusan, dan juga melaksanakan keputusan tersebut dengan tanggung jawab yang besar; bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugasnya bersama atasan; pemimpin mempunyai kesempatan untuk lebih sukses sebagai pemimpin (leader); organisasi sangat efektip di dalam menetapkan tujuan-tujuan dan mencapainya; organisasi lebih produktif.

Dari gaya-gaya kepemimpinan di atas, melahirkan tipe-tipe (watak) pemimpin.  Watak atau tipe pemimpin terdiri atas tiga pola dasar, yaitu:

  1. Berorientasi tugas (tast orientation),
  2. Berorientasi hubungan kerja (relationship orientation),
  3. Berorientasi hasil yang efektip (effectives orientation).

Dari tiga orientasi di atas, ditemukan 14 (empat belas) tipe kepemimpinan, yaitu:

1.  Tipe pembelot (deserter),

sifat: bermoral rendah, tidak memiliki rasa keterlibatan, tanpa pengabdian, tanpa loyalitas dan ketaatan, sukar diramalkan.

2.  Tipe birokrasi/birokrat

sifat: correct, kaku, patuh pada peraturan dan norma-norma, manusia organisasi yang tepat, cermat, berdisiplin, dan keras.

3.  Tipe misionaris (missionary),

sifat: terbuka, penolong, lembut hati, ramah tamah.

4.  Tipe pembangun (developer),

sifat: kreatif, dinamis, inovatif, memberikan/melimpahkan wewenang dengan baik, menaruh kepercayaan pada bawahan.

5.  Tipe otokrat/otokratis/otoratatif (authoritative, dominator),

sifat: keras, diktatoris, mau menang sendiri, keras kepala, sombong, bandel/degil, menganggap organisasi milik pribadi, menyesuaikan antara tujuan organisasi dengan tujuan pribadi, menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, tidak mau menerima kritik dan saran, pendekatan yang dipakai mengundang unsur paksaan.

6.  Tipe otokrat yang bijak (benevolent autocrat),

sifat: lancer, tertib, ahli dalam mengorganisir, besar rasa keterlibatan diri.

7.  Tipe kompromis (compromiser),

sifat: plintat-plintut, selalu mengikuti angina tanpa pendirian, tidak punya keputusan, berpandangan pendek dan sempit.

8.  Tipe eksekutif/administarif.

sifat: bermutu tinggi, dapat memberikan motivasi yang baik, berpandangan jauh, tekun.

9.  Tipe kharismatis (daya tarik)

sifat: memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, mempunyai pengikut yang sangat besar, pengikut tidak dapat menjawab mengapa tertarik menjadi pengikut pemimpin tersebut, kekayaan, kesehatan, profil, kedudukan tidak dapat dijadikan kriteria charisma pada seseorang (contoh: sukarno).

10.  Tipe paternalistis dan maternalistis,

sifat: menganggap bawahan belum dewasa, terlalu melindungi, jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan untuk berinisiatif, mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas, selalu bersikap maha tahu.  Maternalistis mirip dengan paternalistis tetapi over protective disertai dengan kasih sayang yang berlebihan

11.  Tipe militeristis,

sifat: sistem perintah/komando, keras sangat otoriter, kaku dan sering kali kurang bijaksana, menghendaki kepatuhan mutlak, sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebih-lebihan, menuntut adanya disiplin keras dan kaku, tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan, komunikasi satu arah, dalam menggerakkan bawahan lebih senang menggunakan perintah, senang bergantung pada pangkat dan jabatan, senang pada formalitas yang berlebihan, menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, sukar menerima kritikan.

12.  Tipe laissez faire,

sifat: tidak memimpin, membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semau sendiri.

13.  Tipe populistis,

sifat: dapat membangun solidaritas pengikut (contoh: sukarno).

14.  Tipe demokratis (group developer),

sifat: berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikut, menggerakkan bawahan dengan titik tolak pendapat bahwa bawahan adalah manusia yang sejajar, mengkombinasikan antara kepentingan organisasi dengan kepentingan pribadi bawahannya, mau menerima saran dan kritik dari bawahan, mengutamakan kerjasama, berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai seorang pemimpin, berusaha mendorong bawahan untuk berkembang dan sukses.

2.5.    Prinsif dan Asas Kepemimpinan

Ada beberapa prinsif kepemimpinan, iaitu:

  1. Efisiensi secara teknis dan taktis,
  2. Kenali diri sendiri dan cara perbaikan diri sendiri,
  3. Kenali anak buah dan pelihara kesejahteraan mereka,
  4. Anak buah diberi informasi terus,
  5. Berikan contoh,
  6. Jaminlah bahawa tugas dimengerti, diawasi, dan dilaksanakan,
  7. Latihlah anak buah sebagai suatu tim,
  8. Buat keputusan yang bernilai dan tepat pada waktunya,
  9. Kembangkan rasa tanggung jawab di kalangan bawahan,’
  10. Pakailah komando yang sesuai dengan kemampuannya,
  11. Carilah tanggung jawab dan ambil tanggung jawab untuk tindakan-tindakan anda.

Manakala asas kepemimpinan ada tiga, iaitu:

1.  Kemanusiaan

Asas ini mengutamakan sifat-sifat kemanusiaan, iaitu pembimbingan manusia oleh manusia, untuk mengembangkan potensi dan kemampuan setiap individu, demi tujuan-tujuan human.

2.  Efisiensi,

Efisiensi teknis mahupun sosial, berkaitan dengan terbatasanya sumber-sumber, materi, dan jumlah manusia, atas prinsip penghematan, adanya nilai-nilai ekonomis, serta asas-asas manajemen modern.

3.  Kesejahteraan dan Kebahagiaan.

Kesejahteraan dan kebahagiaan yang lebih merata, menuju pada tarap kehidupan yang lebih tinggi.

2.6.    Tugas, Fungsi, dan Peranan Kepemimpinan

Tugas Pemimpin:

  1. Waktu relatif pendek, kualitas berdimensi inovasi (pembaruan, perubahan), dan perubahan-perubahan serta cepat dan dipercepat pada zaman modern,
  2. Mampu menyusun kebijakan (policy) yang bijaksana, mampu mengadakan seleksi secara cermat tepat dari banyak alternatif (kemampuan penentuan keputusan/decesion making yang cepat),
  3. Sifat tugas dinamis, kreatif, inovatif, unik, lentur, luwes/flexible, dan tidak banyak dibatasi oleh standard serta norma-norma ketat.  Setiap saat dikonfrontasikan dengan peristiwa-peristiwa baru yang belum dikenal sebelumnya dan tidak pasti, menghadapi masalah pelik diluar perencanaan umum,
  4. Menterjemahkan atau menjabarkan ide-ide, konsep dan policy organisasi dalam bahasa aksi (dalam bentuk: perintah, komando, dan instruksi-instruksi yang jelas) sehingga dapat dipahami dan dilaksanakan oleh segenap anggota kelompoknya,
  5. Pemimpin tertinggi mempunyai kewajiban tertinggi, kekuasaan paling besar, dan bertanggung jawab paling berat, sekaligus memikul resiko paling besar.  Di tangannyalah terletak nasib hidup dan kesejahteraan seluruh pengikutnya dan sebaliknya ditangannya pula kesengsaraan dan penderitaan (bila kekuasaan dilaksanakan dengan sewenang-wenang).
  6. Berfikir kreatif, orisinil, otentik dan futuristik (melihat jauh ke depan).  Menyandarkan aktivitasnya pada daya imaginasi sendiri sehingga dia bisa kreatif.
  7. Mampu membangun sikap kooperatif dan partisipatif pada setiap pengikutnya agar bersedia memberikan kontribusi sebesar-besarnya kepada organisasi.  Sikap kooperatif dan partisipatif anggota merupakan faktor dependensi/ketergantungan pemimpin kepada pengikutnya dan sekaligus merupakan tekanan psikologis bagi pemimpin.  Fungsi pemimpin unik, iaitu terayun-ayun antara dilema kebebasan, kekuatan, kekuasaan dan kelemahan, ketergantungan kepada para pengikutnya.  Maka seni memimpin kencakup kesanggupan: mampu memberikan keseimbangan diantara dua dimensi yang polair (berlawanan).
  8. Berfungsi sebagai juri (wasit) dan hakim bagi segala konvensi dan permainan organisasi, memikul tanggung jawab moril/etis yang lebih besar dari pada anggota biasa, agar mampu menjamin proses humanisasi dan keadilan dalam organisasi.
  9. Keseimbangan antara pelaksanaan tugas-tugas rutin (kontinuitas dari sistem kerja yang konvensional) dengan kegiatan-kegiatan inovatif dan kreatif dalam wujud penerapan sistem kerja baru, perbaikan, dan revisi.
  10. Pengambilan keputusan (decision making) paling sulit yang memungkinkan berlangsungnya semua kerangka kerja secara efektip dan efisien.  Sekaligus menyambungkan empat fungsu manajerial (merencanakan, mengorganisir, menuntun, memimpin, leading); dan menilai atau memberikan evaluasi.
  11. Tugas mengadung tanggungjawab etis/moral untuk memutuskan satu seleksi dan keputusan ditengah-tengah peristiwa yang tidak pasti, belum dikenal, dan muncul secara mendadak atau secara tidak terduga.
  12. Menyelesaikan konflik interorganisasi dan antarorganisasi, pertentangan dan oposisi (conditio sine qua non – persyaratan yang tidak dapat ditiadakan) dalam masyarakat modern menerusi manajemen konflik.

Fungsi Pemimpin:

Memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi atau membangunkan motivasi-motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan-jaringan komunikasi yang baik, memberikan supervisi/pengawasan yang efisien, dan membawa para pengikutnya kepada sasaran yang ingin dituju, sesuai dengan ketentuan waktu dan perencanaan.

Manakala fungsi kepemimpinan mengikut M. Karjadi (1989:52-61), seperti berikut:

  1. Fungsi perencanaan,
  2. Fungsi memandang ke depan,
  3. Fungsi pengembangan loyaliti,
  4. Fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan rencana,
  5. Fungsi pengambilan keputusan,
  6. Fungsi memberi anugrah.

Peranan Pemimpin

1)      Sebagai seorang pencipta,

2)      Sebagai seorang perencana,

3)      Sebagai wakil kelompok,

4)      Sebagai seorang ahli,

5)      Sebagai pengawas hubungan antar anggota-anggota kelompok,

6)      Bertindak sebagai wasit,

7)      Sebagai pemegang tanggung jawab kelompok,

8)      Beritindak sebagai seroang ayah,

9)      Sebagai korban atau kambing hitam.

10)  Menjalankan peranan (ing ngarso asung tulodo=dimuka memberi teladan, ing madyo mangun karso=ditengah membangun kemauan, tut wuri andayani=dibelakang selalu mempengaruhi).

Manakala peran strategik pemimpin birokrasi publik pula dijelaskan seperti berikut:

  1. Peran mempengaruhi

Agar efektip:

  1. Menjadi seorang pemimpin yang jujur, adil terhadap semua bawahan tanpa pilih kasih,
  2. Berusaha memberikan contoh dalam bekerja dan bertindak,
  3. Bersikap arif dan bijaksana terhadap bawahan yang melakukan pelanggaran,
  4. Senantiasa melibatkan bawahan dalam berbagai kegiatan,
  5. Menumbuhkan rasa percaya diri pada bawahan, bahwa mereka memiliki kemampuan dan potensi kerja yang tinggi,
  6. Usahakan bawahan tetap merasa dihargai, dengan menjadi mereka sebagai patner atau tim kerja.

1.  Peran memotivasi

Bila peran mempengaruhi efektip, maka peran memotivasi akan lebih mudah dilakukan, sebaliknya jika pemimpin tidak mampu menanamkan pengaruh terhadap bawahannya, maka sulit baginya untuk melakukan motivasi.

2.  Peran antar pribadi

Sebagai figure atau tokoh yang cukup dihargai, harus menampilkan perilaku yang baik dan benar, etos kerja yang tinggi, disiplin, dan sikap positip lainnya.

3.  Peran informasional

Kemampuan komunikasi, menjadi komunikator yang efektip (menjelaskan rencana, kebijakan-kebijakan, serta harapan peran, dan instruksi tentang cara pekerjaan harus dilakukan, tanggung jawab kerja, dll).

4.  Peran pengambilan keputusan

Memutuskan apa yang harus dilakukan, bagaimana akan melakukannya, siapa yang akan melakukannnya, dan bilamana akan dilakukan.

Catatan: 1 dan 2 hakekat, 3 s.d 5 tambahan

2.7.    Metode, Teknik, Syarat dan Sumber Kepemimpinan

Metode:

  1. Memberi perintah,
  2. Memberi celaan dan pujian,
  3. Memupuk tingkah laku pribadi pemimpin yang benar,
  4. Peka terhadap saran-saran,
  5. Memperkuat rasa kesatuan kelompok,
  6. Menciptakan disiplin diri dan disiplin kelompok,
  7. Meredam kabar angin dan issue-issue yang tidak benar (Ordway Tead).

Teknik kepemimpinan:

1.  Teknik persuasif

Strategi pemimpin membujuk bawahannya untuk bekerja lebih rajin.  Bujukan biasanya lunak dan baik (be good approach) dan dilakukan dengan lemah lembut, seperti dengan melakukan perjanjian dan menanamkan kesadaran betapa pentingnya menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan bersama (implicit barganing).

2.  Teknik komunikatif,

Strategi pemimpin dalam memperlancar pekerjaannya mencapai tujuan melakukan hubungan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu komunikasi, iaitu apa yang diinginkan oleh komunikator (pemimpin) sama dengan apa yang diterima komunikan (bawahan).

3.  Teknik pasilitas,

Strategi pemimpin memberikan fasilitas kepada bawahan untuk memperlancar pekerjaan (reward power), misalnya kenaikan gaji, honor, uang lembur, mobil dinas, rumah dinas, jabatan, dan lain-lain.

4.  Teknik motivasi,

Strategi pemimpin mendorong bawahan bekerja lebih rajin dengan berbagai cara, misalnya dengan memenuhi kebutuhan fisik, memberikan rasa aman, rasa nyaman, penghormatan, dan lain-lain.

5.  Teknik teladan.

Strategi pemimpin dalam memberikan contoh yang baik kepada bawahannya.

Syarat dan Sumber Kepemimpinan

Konsepsi persyaratan kepemimpinan harus dikaitkan kepada tiga perkara mustahak, iaitu: (1) kekuasaan, (2) kewibawaan, dan (3) kemampuan, dengan penjelasan seperti berikut:

1.  Kekuasaan

Kekuatan, otoritas dan ligalitas yang memberi wewenang kepada pemimpin untuk mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu.

2.  Kewibawaan, dan

Kelebihan, keunggulan, keutamaan, sehingga orang mampu mengatur orang lain, sehingga orang tersebut patuh kepada pemimpin, dan bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu.

3.  Kemampuan.

Segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan/keterampilan teknis mahupun sosial yang dianggap melebihi daripada kemampuan ahli (anggota) biasa.

Manakala Stogdill, mengatakan bahawa pemimpin mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:

  1. Kapasiti (cerdas, waspada, kemampuan bicara, keaslian, kemampuan menilai),
  2. Prestasi (gelar kesarjanaan, ilmu pengetahuan, prestasi olah raga/atletik dan lain-lain),
  3. Tanggung jawab (mandiri, inisiatif, tekun, ulet, percaya diri, agresif, dan punya hasrat untuk unggul),
  4. Partisipasi (aktif, memiliki sosiabiliti tinggi, mampu bergaul, kooperatif, mudah menyesuaikan diri, punya rasa humor),
  5. Status (kedudukan sosial ekonomi, populer, tenar),

Kemampuan pemimpin dan syarat yang harus dimiliki oleh pemimpin mengikut Earl Nightingale dan Whitt Scult, antara lain seperti berikut:

  1. Kemandirian,
  2. Keingintahuan,
  3. Multi terampil,
  4. Rasa humor,
  5. Perfeksionis (ingin sempurna),
  6. Mudah menyesuaikan diri,
  7. Sabar,
  8. Waspada,
  9. Komunikatif,
  10. Berjiwa wiraswasta,
  11. Sehat jasmani,
  12. Tajam firasat,
  13. Berpengetahuan luas,
  14. Motivasi tinggi,
  15. Imajinasi tinggi.

Ngalim Purwanto dan kawan-kawan mengemukakan ada 7 tujuh sumber kepemimpinan, iaitu:

1)      Sifat-sifat seseorang (ketangkasan, keberanian, kecerdasan, kecepatan mengambil keputusan dan lain-lain),

2)      Tradisi (asas kelahiran/keturunan, dan menurut umur/senioriti/ansientitas),

3)      Kekuatan megis (memiliki kekuatan megis),

4)      Prestige (prestige baik dimanapun jadi pemimpin),

5)      Kebutuhan yang kondisioner (kebutuhan kelompok),

6)      Kecakapan khusus (dalam bidang yang dibutuhkan  kelompok),

7)      Secara kebetulan (ada lowongan).

Manakala Ary Ginanjar Agustian (2006:158) menyebutkan bahawa ada 5 tingkatan kepemimpinan, iaitu:

  1. Dicintai,
  2. Dipercaya,
  3. Pembimbing,
  4. Berkepribadian,
  5. Abadi

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: